Pernah nggak sih kamu udah semangat banget mau jualan online, tapi bingung produk apa yang bakal laku keras? Atau malah udah terlanjur stok barang banyak, eh ternyata sepi pembeli?
Nah, masalah klasik yang sering dialami pebisnis pemula ini sebenarnya bisa dihindari kalau kamu paham cara riset pasar online yang bener. Riset pasar bukan cuma buat perusahaan besar kok—kamu yang baru mulai jualan pun wajib ngelakuin ini biar nggak buang-buang modal percuma.
Di artikel ini, aku bakal kasih tau 10 langkah praktis riset pasar online yang bisa kamu terapkan langsung. Siap-siap catat ya, karena ini bakal jadi senjata rahasiamu menemukan produk yang benar-benar dicari pasar!
1. Manfaatkan Google Trends untuk Melihat Tren Pencarian
Google Trends adalah tools gratis dari Google yang bisa nunjukin seberapa sering keyword tertentu dicari orang. Ini penting banget buat ngukur minat pasar terhadap suatu produk atau kategori.
Caranya gampang banget. Kamu tinggal masuk ke trends.google.com, lalu ketik kata kunci produk yang mau kamu jual. Misalnya “skincare Korea”, “sepatu sneakers”, atau “kopi kekinian”. Nanti bakal muncul grafik yang nunjukin tren pencarian dari waktu ke waktu—apakah lagi naik, stabil, atau justru turun drastis.
Yang perlu kamu perhatikan adalah pola trennya. Kalau grafiknya naik terus dalam 6-12 bulan terakhir, itu tandanya produk tersebut lagi hot dan banyak dicari. Sebaliknya, kalau trennya menurun tajam, kamu harus mikir dua kali sebelum masuk ke pasar itu. Jangan lupa juga cek perbandingan antar wilayah—siapa tau produkmu lebih populer di kota tertentu!
2. Stalking Kompetitor di Marketplace dan Media Sosial
Jangan malu-malu buat mengintip kompetitor yang udah lebih dulu terjun di pasar. Buka marketplace kayak Tokopedia, Shopee, atau Lazada, terus cari produk sejenis yang mau kamu jual.
Perhatikan beberapa hal ini: berapa jumlah produk terjual, rating dan review pembeli, harga yang ditawarkan, serta cara mereka promosi. Kalau produk tersebut punya ribuan transaksi dengan rating tinggi, itu pertanda bagus bahwa demand-nya memang ada. Tapi kalau sellernya cuma sedikit dan penjualannya sepi, mungkin kamu perlu cari peluang lain.
Selain marketplace, kamu juga bisa stalking kompetitor di Instagram, TikTok, atau Facebook. Lihat konten apa yang mereka posting, seberapa aktif engagement dari followers, dan strategi marketing seperti apa yang mereka pakai. Dari sini kamu bisa dapat insight berharga tentang apa yang disukai pasar dan gap apa yang bisa kamu isi.
3. Gunakan Keyword Research Tools untuk Cari Volume Pencarian
Selain Google Trends, kamu juga butuh keyword research tools yang lebih detail buat ngecek volume pencarian bulanan. Tools kayak Ubersuggest, Ahrefs, atau Google Keyword Planner bisa bantu kamu.
Misalnya kamu mau jualan “tas ransel anti maling”. Masukkan keyword itu ke tools, nanti bakal keluar data berapa banyak orang yang nyari keyword tersebut per bulan, tingkat kesulitan bersaing, dan keyword turunan lainnya yang relevan. Semakin tinggi volume pencariannya (misal 5.000-10.000/bulan), semakin besar peluang pasar-nya.
Yang nggak kalah penting adalah keyword difficulty. Kalau kesulitannya terlalu tinggi (karena banyak kompetitor besar), kamu bisa cari keyword turunan yang lebih spesifik dan persaingannya lebih rendah. Strategi ini disebut “long-tail keyword”, contohnya: “tas ransel anti maling untuk mahasiswa” atau “tas ransel anti air ukuran besar”.
4. Cek Forum dan Komunitas Online untuk Temukan Pain Points
Salah satu cara terbaik memahami kebutuhan pasar adalah dengan terjun langsung ke tempat target audiensmu berkumpul. Kunjungi forum seperti Kaskus, Reddit Indonesia, grup Facebook, atau komunitas Telegram yang relevan dengan niche produkmu.
Di sana, kamu bakal nemuin pertanyaan, keluhan, dan diskusi yang genuine dari calon pembelimu. Misalnya di grup “Ibu-ibu Doyan Masak”, kamu bisa dapat insight tentang alat masak apa yang lagi dicari, masalah apa yang sering mereka hadapi, atau brand apa yang mereka rekomendasikan.
Catat semua pain points yang muncul. Ini adalah emas—karena kalau kamu bisa kasih solusi atas masalah yang mereka alami, produkmu pasti bakal dicari. Bonus lagi, kamu juga bisa ikut nimbrung diskusi dengan approach yang natural (bukan hard selling), sehingga kamu bisa bangun kredibilitas sekaligus riset pasar.
5. Analisis Hashtag dan Viral Content di TikTok dan Instagram
Media sosial, khususnya TikTok dan Instagram, adalah tambang emas buat riset pasar era sekarang. Platform ini bisa nunjukin produk apa yang lagi viral dan banyak dibicarakan orang.
Coba search hashtag yang relevan dengan produkmu, misalnya #skincarereview, #fashionhaul, atau #sepatulokal. Lihat konten mana yang punya views dan engagement tinggi—itu artinya pasar sedang tertarik dengan topik atau produk tersebut. Kamu juga bisa lihat kolom komentar buat tau reaksi orang: apakah mereka tertarik beli, bertanya harga, atau malah komplain.
Teknik ini namanya social listening. Kamu nggak cuma nyari produk yang lagi trending, tapi juga bisa nemuin angle marketing yang tepat. Misalnya, kalau banyak konten “unboxing produk lokal yang kualitasnya setara brand luar”, berarti ada peluang buat kamu positioning produk dengan angle seperti itu.
6. Survei Langsung ke Target Market Lewat Google Forms
Kalau kamu mau data yang lebih akurat dan spesifik, bikin aja survei sederhana pakai Google Forms. Tanyakan langsung ke target audiensmu tentang kebutuhan, preferensi, dan budget mereka.
Beberapa pertanyaan yang bisa kamu masukkan: “Produk apa yang kamu cari tapi susah ditemukan?”, “Berapa budget yang kamu siapkan buat produk X?”, “Fitur apa yang paling penting buat kamu?”, dan “Di mana kamu biasa belanja online?”. Pertanyaan-pertanyaan ini bakal kasih wawasan mendalam tentang apa yang sebenarnya pasar butuhkan.
Sebarkan survei ini di grup WhatsApp, Instagram Story, atau Twitter. Kalau perlu, kasih sedikit insentif kayak voucher atau giveaway kecil buat naikin partisipasi. Semakin banyak responden, semakin valid data yang kamu dapetin.
7. Pantau Review dan Rating Produk Kompetitor
Review pembeli adalah harta karun informasi. Di sini kamu bisa tau apa yang pelanggan suka dan nggak suka dari produk kompetitor—tanpa perlu beli produknya sendiri.
Buka halaman produk kompetitor di marketplace, scroll ke bagian review, dan baca dengan teliti. Perhatikan keluhan yang sering muncul: apakah kualitas produknya kurang, packaging jelek, pengiriman lama, atau customer service nggak responsif. Ini adalah gap atau kelemahan yang bisa kamu manfaatkan.
Misalnya, kalau banyak review yang komplain “produknya bagus tapi packagingnya kurang aman, sampai penyok”, kamu bisa jadikan packaging sebagai value lebih di produkmu. Atau kalau banyak yang minta varian warna tertentu tapi nggak tersedia, kamu bisa sediakan warna itu. Intinya, perbaiki apa yang kompetitor gagal lakukan.
8. Cek Best Seller dan New Release di E-commerce
Hampir semua marketplace punya fitur “Best Seller” atau “Produk Terlaris” di setiap kategori. Ini adalah shortcut buat kamu nemuin produk yang memang laku keras di pasar.
Lihat kategori yang relevan dengan bisnismu, terus cek 10-20 produk teratas. Analisis kesamaan di antara produk-produk tersebut: apakah mereka punya harga yang mirip, fitur yang sama, atau target market yang spesifik. Dari sini kamu bisa tarik kesimpulan produk seperti apa yang paling diminati konsumen.
Selain best seller, perhatikan juga tab “New Release” atau “Produk Baru”. Kadang produk yang baru launching tapi langsung rame penjualannya menandakan bahwa ada tren baru yang mulai naik. Kamu bisa masuk lebih awal sebelum pasarnya terlalu ramai kompetitor.
9. Manfaatkan Google Alerts untuk Update Tren Real-Time
Google Alerts adalah fitur gratis yang bisa ngasih notifikasi ke emailmu setiap kali ada konten baru di internet yang membahas keyword tertentu. Ini cocok banget buat kamu yang pengen selalu update sama berita dan tren terbaru di niche produkmu.
Caranya gampang: masuk ke google.com/alerts, masukkan keyword yang mau kamu pantau (misal “tren fashion 2025” atau “produk viral TikTok”), terus atur frekuensi notifikasinya—bisa harian atau mingguan.
Dengan Google Alerts, kamu nggak bakal ketinggalan info penting kayak peluncuran produk baru kompetitor, perubahan regulasi, atau viral marketing campaign yang bisa kamu pelajari. Kamu jadi lebih proaktif, bukan reaktif.
10. Test Market dengan Modal Kecil Lewat Pre-Order atau Dropship
Riset pasar yang paling akurat adalah dengan langsung jualan. Tapi tenang, kamu nggak perlu langsung stok banyak—coba dulu sistem pre-order atau dropship buat test market.
Bikin postingan produk di Instagram atau marketplace, jelasin value propositionnya dengan menarik, terus liat respon pasar. Kalau banyak yang tanya, DM, atau bahkan langsung pesan, itu pertanda bagus. Kalau sepi, berarti kamu perlu evaluasi: apakah produknya yang kurang menarik, harganya kemahalan, atau cara promosinya yang kurang nendang.
Teknik ini disebut MVP (Minimum Viable Product)—kamu validasi dulu idenya sebelum komit investasi besar. Lebih baik gagal cepat dengan modal kecil daripada terlanjur rugi jutaan rupiah. Dari test market ini, kamu juga bisa improve produk atau strategi marketingmu sebelum scale up.
Riset pasar online bukan sekadar langkah opsional—ini adalah fondasi kesuksesan bisnis yang wajib kamu bangun sebelum mulai jualan. Dengan 10 langkah di atas, kamu udah punya toolkit lengkap buat nemuin produk yang benar-benar dicari pasar, bukan cuma produk yang kamu suka doang.
Inget, riset pasar adalah proses yang terus berjalan. Pasar selalu berubah, tren datang dan pergi, jadi kamu harus tetap update dan fleksibel. Mulai dari sekarang, biasakan diri buat riset dulu sebelum ambil keputusan bisnis—modal kecil tapi strategi matang jauh lebih baik daripada modal gede tapi asal tebak.
Sekarang giliran kamu praktek! Mana nih langkah yang paling mau kamu coba duluan? Komen di bawah ya, atau share artikel ini ke temen-temenmu yang lagi mau mulai bisnis online. Siapa tau mereka butuh info ini juga!